Selasa, 23 Mei 2017

Ditulis 21.29 oleh with 0 comment

Mereka Bunuh Munir!


Judul buku                : Mereka Bunuh Munir!
Penulis & ilustrator  : Eko Prasetyo & Terra Bajraghosa
ISBN                        : -

Penerbit                    : Social Movement Institute, Yogyakarta & Kontras
Tahun terbit              : 2014
Jumlah halaman        : 158

Harga beli                 : Rp. 29.750,-
Beli di                       : Togamas Yogyakarta
Tanggal beli              : 29 Desember 2016
Nilai                          : 4 dari 5

Mereka Bunuh Munir! (dengan tanda seru) adalah buku yang hadir dari kekecewaan yang tumbuh dari harapan akan tegaknya keadilan. Harapan yang kandas seiring turunnya SBY dan harapan baru dengan naiknya Jokowi. Terbit tepat 10 tahun setelah meninggalnya Munir dan akhir masa jabatan SBY, buku ini dengan sangat berani menggugat presiden lama (terutama jika dikaitkan kasus hilangnya laporan TPF Munir yang menghebohkan beberapa waktu lalu) dan menuntut presiden baru untuk menuntaskan kasus memalukan ini.
Gaya humor yang mak jleb
Indonesia memang punya banyak kasus pelanggaran HAM berat. Selain kasus pelenyapan orang-orang yang disangka bagian dari PKI tahun 1965, ada kasus DOM di Aceh yang memakan ribuan korban, dan tentu tragedi Mei 1998 yang menimpa etnis Tionghoa dan sejumlah aktivis HAM. Dua hal yang disebut terakhir yang menurut buku ini berujung pada dilenyapkannya Munir. Dia dibunuh karena memang “membahayakan.” Membahayakan siapa? Ya, membahayakan “Mereka.”

Komik dibuka dengan jam-jam terakhir kehidupan Munir sebelum bertolak ke Amsterdam pada tahun 2004 dan tewas mengenaskan di atas pesawat akibat diracun. Perlahan dengan sabar tapi dengan tempo penuh letupan alur komik maju ke sulitnya upaya TPF membongkar kasus pembunuhan ini, kemudian mundur kembali ke belakang menceritakan sepak terjang Munir yang membuat takut para “Elite” ketika mengosak-asik pelanggaran HAM yang mereka lakukan, sambil tetap tak melupakan sisi manusiawi Munir, teman, dan keluarganya yang sanggup membikin pembaca cepat bersimpati pada Munir.

Menariknya, sekalipun formatnya komik, dia tidak diletakkan di rak komik. Tapi agak tersembunyi menyelip di antara buku kategori Sosial (hm, kenapa coba?).

Secara teknis gaya gambar Terra (dosenku pas di DKV ISI Yogyakarta) malah terasa pas dengan tema pelanggaran hak asazi manusia dalam komik ini. Karena aku bahkan tidak tega membayangkan dan betapa tak nyamannya bila isi dalam buku ini adalah foto-foto atau setidaknya gambar realis. Goresan Mas Terra yang terkesan sederhana, kekanakan, dan kocak, bukan dengan tujuan menertawakan tragedi, bagiku memang perlu supaya pembaca dapat meredam rasa ngeri dan iba atas derita para korban yang harus mengalami hal mengerikan nan tak beradab ini.

Metode penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan aktivis dan warga Aceh saat DOM diceritakan dengan cukup detail. Diperkosa sampai hamil dan disiksa di depan kerabatnya cuma sebagian kecil dari yang dipaparkan buku ini.

Mereka (para pembunuh) yang dimaksud buku ini tidak benar-benar mengarah kepada orang tertentu, meski ada petunjuk-petunjuk yang dibangun ke arah sana. Namun komik ini dengan cerdiknya mengindikasi sesuatu yang lebih besar, pihak yang terlibat tapi seolah bersih. Termasuk mereka yang percaya pada kestabilan politik zaman Suharto yang berdasar pada tafsir sempit Pancasila versi Suharto saat dia naik ke kursi presiden dan terus dipraktikkannya lewat tangan militer.

Simak bagaimana komik ini mengutip dakwaan Jaksa dalam persidangan, bahwa motivasi Pollycarpus membunuh Munir adalah patriotisme pribadi, yaitu untuk “menegakkan negara kesatuan Republik Indonesia.” Di sinilah sebenarnya menurutku letak bahaya jargon “NKRI Harga Mati” yang kerap didengungkan, menjadi tren, dan tak dipertanyakan lebih jauh, seperti apa sebetulnya NKRI Harga Mati, perlukah sampai mati jika justru melenyapkan nyawa orang yang peduli dengan NKRI?


Read More
      edit

Jumat, 04 September 2015

Ditulis 05.06 oleh with 0 comment

Kendil Ajaib


Komik tipis ini mengandung pesan moral yang nyaris selalu berulang: jangan lihat seseorang/sesuatu dari sisi penampilan belaka dan tolonglah siapapun tanpa pandang bulu, mau bulunya punya uang atau gak punya uang, tua atau muda. Jika butuh bantuan maka orang itu wajib ditolong dengan ikhlas dan sepenuh hati tanpa ada pamrih. Dengan begitu engkau akan mendapat ganjaran yang sertimpal.




Ceritanya seorang kakek misterius berkelana dari desa ke desa. Ketika kehausan dia menghampiri rumah seorang kaya dan meminta segelas air. Namun orang kaya itu menolak memberi. Kakek itu melanjutkan perjalanan. Ketika dilihatnya ada sebuah kedai makan. Dia meminta makanan kepada pemilik kedai, namun empunya kedai malah mengusirnya. Si kakek singgah di sebuah rumah sederhana. Seorang pemuda menyambutnya. Dia hanya punya sepiring nasi, namun melihat Si Kakek tampak lebih membutuhkannya maka diberikan nasi itu kepada Si Kakek. Si Kakek pun pulang. Selang beberapa hari Si Orang Kaya menemukan kendil terbuat dari emas, dia menyangka isinya pasti intan permata. Dia memanggil tetangganya. Di hadapan mereka dia membuka kendil emas itu, tetapi isinya ternyata ulat-ulat bulu yang banyak sekali dan mengerubuti rumah Si Kaya. Para tetanga berlarian merasa jijik. Sementara itu Si Pemilik Kedai menemukan kendil perak. Dia juga menyngka isinya adalah barang berharga, tapi begitu dibuka bau busuk menyebar hingga seisi kedai. Meski sudah ditutup bau itu tidak hilang. Kedai pun sepi. Kedua orang ini bangkrut dan hidup menggelandang. Sedangkan Si Pemuda menemukan kendil tanah liat di depan rumah yang ternyata isinya adalah emas dan permata. Dia sangat terkejut dan bersyukur. Dia lantas memberikan sebagian benda-benda itu kepada kaum miskin. Begitulah buah dari sebuah pertolongan kecil yang ikhlas.
Read More
      edit

Kamis, 03 September 2015

Ditulis 04.07 oleh with 0 comment

The Kite Runner (Komik)

Khaled Hosseini

Komik Kite Runner
Judul buku                : The Kite Runner
Penulis                      : Khaled Hosseini
ISBN                        : 978-602-7662-09-4

Penerbit                    : Secondwind, Mizan, Bandung
Tahun terbit              : 2013
Jumlah halaman        : 136
Ilustrator                   : Fabio Celoni dan Mirka Adolfo

Harga beli                 : Rp. 10.000,-
Beli di                       : Yogyakarta
Tanggal beli               : 2 Maret 2014
Nilai                          : 3 dari 5

Terlepas dari masalah teknis penulisan akibat bahasa yang bertumbukan, novel The Kite Runner adalah salah satu novel terbaik yang pernah kubaca. Kisahnya manis, tentang persahabatan dua anak kecil berbeda kelas yang harus terputus karena suatu tragedi kelam dan perang di Afganistan. Filmnya sendiri aku sudah nonton dan menurutku sama baiknya dengan novel. Kupikir hanya soal waktu sampai ia muncul dalam versi komik. Tapi walaupun berformat komik ia tetap bukan diperuntukkan bagi anak-anak.

Apa yang kulihat? Seluruh hidupku
Komik ini secara teknis tidak diragukan lagi keindahannya juga pewarnaannya yang digarap serius. Sayangnya aku merasa komik ini amat sangat bergantung kepada dua media yang sudah dikenal lebih dahulu: novel dan film. Sehingga pembaca yang sudah akrab dengan cerita The Kite Runner tidak akan menemukan kesulitan menyimaknya. Tapi aku ragu komik ini akan cukup jernih bagi pembaca yang belum pernah membaca novel atau menonton filmnya terutama mengenai apa yang sebenarnya terjadi dengan Hassan dan anaknya (Sohrab) dalam hubungannya dengan Si Assef, orang sadis setengah gila yang jadi pejabat penting Taliban.
Read More
      edit